Kalau Kamu Mau Nikah Dulu, Aku Tidak Apa-Apa

Hampir 9 tahun yang lalu kita dipertemukan. Dalam satu gedung yang sama, meski tidak pernah tertakdirkan dalam kelas yang sama. Hari berganti hari, sampai menginjak kelas XI, kita dipersatukan dalam tim bernama Dewan Ambalan Diponegoro Ratnaningsih. Kalau kamu bertanya apa saja memori sepanjang perjalanan kita menjadi bagian dari DA, sungguh aku tidak ingat apa-apa. Malangnya, aku memang tertuliskan sebagai pelupa.

Tahun berganti tahun. Lagi-lagi aku lupa sejak kapan aku bisa sering main denganmu. Menghabiskan waktu sambil bercerita hal penting maupun hal tidak penting. Lalu pada suatu titik, kamu-lah yang mengenalkanku dengan Merbabu. Menopangku dan selalu menyemangatiku bahwa aku bisa melewati medan dengan baik. Tahun berikutnya, kamu membawaku ke Prau. Tak hanya menemaniku dari awal hingga akhir pendakian seperti biasanya, kamu juga selalu memastikan keselamatanku. Bagaimana pula Jogja – Merbabu – Jogja dan Jogja – Prau – Jogja, selalu kamu yang pegang kemudi. Ah, betapa tangguhnya kamu, ku iri. Sungguh iri.

Hari ini, aku menyita waktumu lebih dari seperempat hari. Berjanji temu pukul 07.15 tapi baru sampai rumahmu pukul 08.00 pagi. Maafkan aku yang selalu terlambat ya. Berangkat dari rumahmu pukul 08.30, menyusuri jalur lintas selatan, lalu sampailah kita di tujuan. Kita menghabiskan waktu hingga dhuhur berkumandang. Karena keroncongan, aku mengusulkan sejenak mencari pemadam kelaparan.

Intuisi kita salah. Seharusnya belok kanan, kita malah belok kiri dan memutari jalanan yang penuh tanjakan dan turunan. Ini semua berkat sinyal yang tiba-tiba menghilang. Apalah daya kita yang tidak bisa bawa tower provider ke mana-mana. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh setengah jam, jadi satu jam. Sudah begitu, sampai di lokasi (kata Google Maps), warungnya maya. Sesungguhnya lapar sudah melanda. Ah.

Sejenak berhenti dan kembali mencari. Dua kali kesasar. Tapi aku yakin itu hanya cara Allah agar kita lebih lama menghabiskan waktu bersama. Ya tapi nggak pas lapar juga ya. Hawa-nya jadi kayak singa. Hahaha. Sesampainya di warung makan yang katanya favorit warga, kita meletakkan raga. Memesan dua porsi makanan dan dua gelas minuman. Alhamdulillah kenyang.

Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini. Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan selain terima kasih telah menemaniku sejauh ini. Memperlihatkan keindahan Merbabu dan Prau, berbagi pengalaman hidup, dan selalu sabar menghadapiku yang payah ini. Terima kasih untuk kebahagiaan hari ini. Yang rela meluangkan waktu, menjadi driversepanjang perjalanan yang tidak sebentar, dan tetap (berusaha) kalem saat kelaparan.

Sebenarnya aku berat mengatakan ini. Tapi aku harus merasa tidak apa-apa jika kamu menikah lebih dulu. Bukannya aku tak turut berbahagia, tapi aku pasti kehilangan orang yang ku sayangi, yang aku percaya bisa menjagaku (karena aku belum punya suami). Ah, ya begitulah. Aku akan berusaha untuk baik-baik saja. Iya, aku akan berusaha. Tenanglah, selalu ada doa terbaikku untukmu, sejauh apapun langkah menuntunmu. Semoga kelak saat hari pembalasan tiba, kita dikumpulkan di surgaNya.

Semoga Allah memudahkan setiap prosesmu ya, mbak Lina. Bi idznillaah.

Catatan : Tapi mbak Lina, aku masih normal. Aku mencintaimu sebagai sahabat, bukan sebagai teman hidup ya. Hahaha. #digaplokMbakLina

Be Sociable, Share!

One thought on “Kalau Kamu Mau Nikah Dulu, Aku Tidak Apa-Apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.