Ilmu Baru: Zonasi dan Flora Fauna Taman Nasional Gunung Merapi

Dok. Pribadi

Taman Nasional Gunung Merapi

Warga Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta tentu tidak asing dengan keberadaan Gunung Merapi. Salah satu gunung api yang masih aktif dan menjadi bagian dari 129 Ring of Fire ini kokoh berdiri membatasi dua provinsi tersebut. Selama ini saya pribadi hanya tau sebatas: oh, Merapi bisa didaki. Oh, lereng Merapi bisa untuk kegiatan outbound. Oh, kaki Merapi adalah lokasi wisata yang luar biasa seperti Lava Tour, bumi perkemahan, dan sebagainya. Ternyata lebih dari itu. Ternyata tidak sesederhana itu. Ternyata Merapi sungguh kaya dengan banyak hal yang ia punya. Mau tau? Sini lanjut baca!

Sudah sepatutnya kita tau bahwa Gunung Merapi adalah gunung yang memiliki ekosistem unik yaitu perpaduan ekosistem hutan hujan di Jawa bagian barat dan ekosistem savana di Jawa bagian timur. Oleh karena itu berbekal Surat Keputusan Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004, dibentuklah Taman Nasional Gunung Merapi seluas 6.607,52 ha (perhitungan luas tahun 2016). Keberadaan TNGM ini tak lain untuk melindungi fungsi kelestarian tata air (hidrologi), keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya, dan menjamin kelestarian manfaat ekologis bagi hajat hidup orang banyak.

Zonasi Taman Nasional Gunung Merapi

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 pasal 32, Taman Nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan. Menurut Permenhut No 56 tahun 2006 tentang Pengelolaan Zonasi Taman Nasional, zonasi adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan,pengumpulan dan analisi data, penyusunan draft rancangan rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas, dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Berikut bentuk zonasi TNGM saat ini:

Dok. Arif Sulfiantono

Ini data lengkapnya :

1. Zona Inti (Sanctuary zone) seluas ± 860,87 Ha.
2. Zona Rimba (Wilderness zone) seluas ± 2.742,78 Ha.
3. Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas ±257,69 Ha.
4. Zona Lainnya; dengan rincian sebagai berikut :
   a) Zona Volkano Aktif seluas ± 868,85 Ha
   b) Zona Tradisional seluas ± 580,05 Ha
   c) Zona Rehabilitasi seluas ± 910,05 Ha
   d) Zona Religi, Budaya dan Sejarah seluas ± 15,82 Ha
   e) Zona Mitigasi Bencana seluas ± 147,34 Ha

Sepanjang penjelasan dari Kepala Balai TNGM, Ir. Ammy, Zona Inti merupakan zona yang masih sangat asli, utuh, dan mutlak untuk dilindungi. Dalam zona ini tidak diperbolehkan adanya aktifitas manusia. Sebagai penyangga zona inti adalah Zona Rimba, terbentuk dari hutan sekunder dan tanaman lainnya. Beberapa wisata yang kita kenal seperti Tlogo Putri dan Kalikuning Adventure Park terletak pada Zona Pemanfaatan dan bisa digunakan sebagai ruang publik. Jikalau menjumpai warga sedang merumput, berarti termasuk Zona Tradisional. Namun ada juga yang masih merumput di Zona Pemanfaatan atau zona yang lain. Dari pihak TNGM sendiri terus melakukan sosialisasi dan mengingatkan warga agar tidak turut menyiangi bibit-bibit tumbuhan asli Merapi.

Flora dan Fauna Merapi

Dok. Wikipedia

Tau nggak itu tumbuhan apa? Ya, itu anggrek jenis Vanda tricolor, anggrek yang tumbuh subur di Merapi. Dalam kawasan TNGM ditemukan kurang-lebih 154 jenis tumbuhan. Ada yang memang khas pegunungan, ada yang diintroduksi dari Perum Perhutani seperti yang kemarin saya jumpai yaitu Acacia decurens atau bahasa daerahnya “Sogo”. Pohon ini super unik karena tunasnya justru akan tumbuh ketika terkena panas tinggi. Pun, pertumbuhannya sangat progressif sehingga dikhawatirkan mengganggu pohon asli Merapi. Untuk jenis (asli) yang termasuk dalam kelompok tumbuhan pegunungan, diantaranya yaitu, Schima wallichii (Puspa), Cupressus sp., Quercus turbinata, Myrica javanica, Anaphalis longifoliaHabenaria tosariensisLespedeza junghuhniana, dan Rhododendron javanicum.

Burung Perling, Dok. Peserta KAP

Selain flora, Merapi juga menjadi habitat beberapa fauna. Saat tracking #kalikuningadventurepark kemarin, saya dan tim diajak untuk mengamati salah satu fauna yaitu burung menggunakan lensa monokuler dan binokuler. Diketahui  ada 97 jenis burung (2.714 individu, 32 famili) yang tinggal di Merapi dan 15 jenis mamalia (167 individu, 10 famili). Dari jenis-jenis tersebut, 17 jenis burung dan 4 jenis mamalia termasuk jenis yang dilindungi menurut PP No 7 Tahun 1999, 6 jenis memiliki nilai konservasi tinggi (IUCN 2011), 9 jenis diawasi dalam perdagangan satwa langka (CITES), 23 jenis endemik Indonesia dan 2 jenis termasuk feral atau bukan sebaran alami Indonesia atau domestik.

Perling menjadi objek cuci mata pagi itu. Jumlahnya banyak dan menempati pohon-pohon tua yang sudah mati. Matanya yang merah tajam dengan bulu warna hitam membuat sedikit bergidik ngeri sekaligus elegan. Sewaktu tracking, saya tidak menemui fauna yang besar-besar. Ya kalau diminta bertemu Macan Tutul juga saya pasti semaput di tempat. Fauna jenis mamalia yang ada di Merapi yaitu monyet ekor panjang, musang, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing hutan (Prionailurus bengalensis), Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) dan Landak (Hystix brachyura).

Sudah penasaran belum pengen ketemu mereka? Cusss-lah ke TNGM sana!

Sumber :
1. http://www.tngunungmerapi.org/
2. https://www.academia.edu/12640463/Penataan_Zonasi_TNGM_Tahun_2011_setelah_Erupsi_2010_?auto=download
3. http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=27515
4. http://skpm.ipb.ac.id/karyailmiah/index.php/kolokium/article/downloadSuppFile/367/55
Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.