Sebuah Cerita Tentang Rahasia

Nanti, jika aku telah mampu bicara, aku akan katakan semuanya. Nanti, jika mataku tak mampu lagi bersuara, kenanglah aku sebagai jiwa.

Perempuan itu berjalan perlahan di sampingku menyusuri jalanan yang menurun. Kami saling diam. Menghirup udara dalam-dalam. Tanda bahwa masing-masing dari kami sedang menahan beban, namun saling menyimpan. Sore itu indah. Namun senja kali ini, tidak sempurna.

“Jadi, sekarang engkau dekat dengan siapa?”

Perempuan di sampingku memecah kebisuan. Aku masih terdiam, mencerna pertanyaan itu, mempersiapkan jawaban.

“Tidak dengan siapapun. Sudah tidak ada keinginan.”

Jawabku pada akhirnya. Rasanya sungguh tidak ingin membahas ini dengannya.

“Beberapa waktu yang lalu aku menyadari satu hal. Sedikit tau tentangmu.”

Perempuan itu menatapku. Aku memilih menunduk. Ketakutan maha dahsyat telah memenuhi pikiranku. Aku takut jika perempuan itu pada akhirnya tau sebelum aku mampu menceritakan yang sebenarnya. Lagi-lagi aku terdiam.

“Aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Dan aku baru tau, selama ini yang dekat denganmu, yang kamu tunggu, yang kamu ceritakan, adalah dia.”

Aku kehabisan kata.

“Siapa?” tanyaku lirih.

“Aku bertemu dengannya saat menyerahkan undangan pernikahanku.”

Aku berhenti sejenak. Meluruskan kaki. Mencoba menebak maksud perempuan itu. Namun aku memilih diam, menunggu dia melanjutkan ceritanya.

“Mau duduk dulu?” Aku mengangguk.

“Aku tidak akan menyalahkan siapapun. Aku tidak akan menyalahkanmu, tidak akan menyalahkan dia. Aku hanya bisa dukung untuk setiap keputusan yang kamu pilih.”

Aku memilah kata yang paling tepat. Namun aku sama sekali tidak bisa berpikir.

“Aku tidak mengerti, Ra. Siapa yang kamu maksud?” tanyaku pada akhirnya.

“Rendra.”

“Oh.”

“Aku bertemu dengannya. Dan dia sedikit bercerita tentangmu.”

“Lalu?”

“Lalu aku yang menyuruhnya untuk menghubungimu kembali. Memastikan hubungan kalian.”

Aku beranjak dari dudukku, berjalan lebih santai, cenderung agak cepat.

“Aku sudah melupakannya. Sudah lama.”

“Tak kah bersisa perasaanmu kepadanya?”

“Tidak.”

“Aku tidak bisa memaksamu.”

“Terima kasih.”

“Tapi, kenapa sama sekali tak bersisa? Dan bahkan kamu tidak menceritakan ini padaku? Malah dia?”

“Itulah bedanya.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya tidak ingin melibatkan siapapun dalam mengambil keputusan. Sudah tau bedanya aku dan dia, kan?”

“Oh ya, aku paham. Tapi, aku menangkap wajah tegangmu saat aku mengatakan aku bertemu dengannya.”

Karena bukan Rendra yang aku maksud, Ra. Dan aku sangat lega bahwa kamu menyebut Rendra,  bukan nama yang lain. Nama yang begitu aku rahasiakan. Meski aku yakin, kamupun sebenarnya paham. Seseorang yang berhasil membuatku berhenti, namun telah memaksaku pula untuk berlari saat aku tau bahwa dia telah mencintai perempuan yang lain. Seseorang yang telah membuatku bahagia dengan mencintainya secara rahasia. Jawabku dalam hati.

“Pulang, yuk!” Alihku.

“Okey! Beli es krim dulu ya!”

“Siap. Abangnya sekalian?”

“Itu mah buat kamu, aku sih udah bersuami!”

“Dasar sombong! Hahaha”

Dan perempuan itu menghilang di ujung jalan. Perpisahan kami untuk sementara. Esok bertemu lagi. Semoga dengan rindu yang baru. Dengan rahasia-rahasia baru. Yang membuatnya penasaran.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.