Setiap Jejak Waktu Seperti Berkisah

Jogja, Februari 2017

Setiap jejak waktu seperti berkisah. Sebuah kalimat yang saya baca di Taman Pintar Yogyakarta. Waktu meninggalkan kisah-kisah. Yang hanya bisa dikenang dengan damai, bukan sebagai penghambat perjalanan. Februari 2017, saat usia genap 23. Merunut kembali perjalanan di Merbabu, membuat saya semakin yakin bahwa saya ini bukan siapa-siapa. Yang masih banyak PR-nya untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

I love places that make me realize how tiny I am and my problems are. Continue reading

Recent search terms:

merbabu bikin candu

Merbabu Part #5 : Edisi Nyungsep Saat Turun Gunung

Merbabu, 28 Desember 2016

Hari sudah semakin terik. Saatnya pulang kembali ke Jogja. Meski belum mendapat sunrise seperti di foto pendaki Merbabu kebanyakan, tidak masalah. Bukan sunrise yang saya cari. Kalaupun jumpa, itu bonus. Menjelang dhuhur, seluruh peralatan camping diberesi. Mengambil foto satu, dua, tiga, kemudian kami turun satu persatu. Continue reading

Recent search terms:

turun gunung dengan berlari

Merbabu Part #4 : Kekuatan Jangkar Terletak Pada Mata Rantai Yang Paling Rapuh

Merbabu, 27 Desember 2016

Masih di POS 2 untuk menunaikan shalat. Saat teman yang lain shalat, saya berjalan di sekeliling pos. Melihat Merapi yang sangat menawan. Dan senja yang mulai berangsur. Angin mulai berhembus kencang. Mengibarkan jilbab yang saya kenakan.

Sebelum teman-teman selesai menunaikan shalat, saya, Linda, Mbak Lina, dan Fitri berangkat lebih dulu. Alasannya jelas, teman yang lain pasti akan menyusul saya dengan cepat karena jalan saya yang begitu lambat. Jadi daripada nanti saya yang tambah kewalahan, saya mengajak mereka untuk mendaki lebih dulu. Saat itu, saya baru menyadari kalau tangan saya mulai bengkak karena tekanan udara. Continue reading

Recent search terms:

kekuatan jangkar

Merbabu Part #3 : Merbabu Ajarkanku Lupakanmu

Selo, 27 Desember 2016

Melupakanmu bukan hal mudah. Setidaknya bagiku. Butuh waktu sekitar 4 tahun, dan sebentar lagi usiaku 23, sudah saatnya benar-benar melangkah. Dan Merbabu, menjadi saksi hidup luruhnya segala hal yang ada dalam hati dan pikiranku, untukmu.

Pukul 17.30 WIB. Sudah hampir terdengar adzan maghrib. Baru sampai pos 3. Harus mendaki sedikit lagi sebelum sampai tempat pendirian tenda di Sabana 1. Angin mulai berhembus kencang. Sepakat dengan berbagai cerita di internet soal pendaki yang diganggu, biasanya diawali dengan angin kencang. Jujur, pikiran saya kembali melayang, nyali menciut. Continue reading

Merbabu Part #2 : Merunut Penanda Ketinggian

Selo, 27 Desember 2016

Saya masih tidak begitu yakin bahwa saya sudah sampai Selo dan hampir melakukan pendakian. Ini adalah pendakian pertama saya (setelah Gunung Bromo, Sikunir, dan Nglanggeran di mana ketiganya adalah gunung wisata, kalau teman yang lain menyebut tiktok alias sekali jalan, atau daki-turun cukup dalam satu hari). Beberapa orang cukup heran karena pemilihan gunung yang mungkin bagi orang lain terlalu ekstrim bagi pemula.

Sedikit takut, wajar. Sedikit khawatir, tentu. Namun sepuluh hari sebelum pendakian, saya diarahkan adek saya Fahrul untuk olah fisik dengan cara jogging namun tidak dipaksakan. Selain itu, mbak Lina juga selalu mengingatkan peralatan yang harus disiapkan agar tetap bertahan hidup di atas sana. Well, karena pendakian ini atas restu simbok tercinta, dicarikan headlamp juga oleh kakak saya (beserta cadangan baterai yang jumlahnya mungkin lebih dari satu lusin), sandal gunung milik kakak perempuan saya yang dulu juga senang hiking, sleeping bag dari adek sepupu saya Lia, beserta carrier dan matras dari tetangga saya dek Cahya. Continue reading