Hai, bertemu lagi. Setelah ribuan purnama tidak menulis, ternyata aku merasa aku harus menulis. Dan hari ini, aku akan memulainya lagi. Dari mana?
Ketika kita sesak, apa yang akan kita lakukan? Terdiam merenung, menangis, berkelana, atau memperbanyak doa? Setiap orang memiliki preferensi masing-masing untuk itu. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa memandang, bahkan mungkin dengan lancang menilai orang lain sesuai standar yang kita miliki. Seharusnya dia berdoa, seharusnya dia meluangkan waktu untuk bertamasya, seharusnya dia…
Kalau kamu sedang sesak, apa yang kamu lakukan?
…dan, kenapa kita bisa se-sesak ini? Hingga kita tidak tahu lagi harus berbuat apa, sehingga kita hanya bisa terdiam, merenung, meneteskan air mata, hingga parahnya, melupakan semua nikmat yang sudah ada. Namun, aku tidak ingin membahas tentang nikmat. Aku memang sedang kufur, aku mengakuinya. Aku menginginkan kehidupan yang lebih baik seperti orang lain.
Orang bilang, semua akan indah pada waktunya. Perahu yang berlayar, akan sampai di pelabuhannya. Namun, orang lain pula mengingatkan bahwa ada perahu yang karam sebelum sampai di pelabuhannya. Lalu, mana yang harus dipercaya? Dan sampai kapan dia akan tiba? Dan bagaimana bila tidak tiba? Ternyata, menunggu “sampai” sungguh sangat menyesakkan.
Terlalu banyak utas di hati dan di kepala. Memandang penantian dari berbagai sisi, sesak yang harus segera dikuliti. Menghadapi momen ini sungguh tidak mudah, terkadang kita bahkan tidak mengerti, kita ini harus bagaimana? Dalam psikologi, hati yang sesak sering kali merupakan manifestasi fisik dari emotional distress, stres emosional yang menumpuk, atau kecemasan (anxiety). Saat stres, tubuh mengaktifkan respons fight-or-flight. Mode siaga. Jika sudah begini, salah satu alternatif yang aku lakukan adalah jalan sore sambil grounding.
Apakah kamu pernah melakukan grounding? Aku sering. Kebetulan, di dekat rumahku masih banyak tanah kosong, atau sesekali ke pantai bertemu dengan pasir. Like, united with nature. Selain grounding, aku juga sering menulis jurnal (expressive writing), menangis (ini jarang sekali, karena menangis membuat kepalaku terasa pusing), atau ngobrol dengan orang yang dipercaya to validate and throw my negatif emotional away. Then, sometimes I make a cognitive reframing, mengubah cara pandang terhadap masalah secara rasional, ya, kita harus mengakui bahwa otak kita ini sering berpikir skenario terburuk padahal belum dijalani, ya kan?
Dalam Islam, rasa sesak di dada (dhiqush-shadr) adalah hal yang manusiawi dan bahkan pernah dialami oleh Nabi Muhammad SAW (sebagaimana disebut dalam QS. Al-Hijr: 97). And how Allah heal us? Of course through dzikrullah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)”. Also we have to get closer with The Creator by salat, and also tawakkal.
Ternyata, hidup ini tentang penerimaan. Qada’ dan Qadar. Ketika hati menerima takdir dengan ridha, ruang di dalam dada yang tadinya terasa sempit akan meluas, karena kontrol diambil alih oleh Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa.
References:
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya: Edisi penyempurnaan 2019. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
- Al-Ghazali, I., Ibnu Qayyim, & Ibnu Rajab. (2019). Tazkiyatun nafs: Konsep penyucian jiwa menurut ulama salafush shalih (P. A. T. Team, Trans.). Pustaka Arafah.
- Hawwa, S. (2005). Mensucikan jiwa: Tazkiyatun nafs (A. M. Basalamah, Trans.). Robbani Press.
- Rusdi, A., & Subandi. (Eds.). (2020). Psikologi Islam: Kajian teoritik dan penelitian empirik. Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi & Unit Publikasi Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga.
- Greenberger, D., & Padesky, C. A. (2015). Mind over mood: Change how you feel by changing the way you think (2nd ed.). The Guilford Press.
- Van der Kolk, B. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. Penguin Books.